Kamis, 03 Januari 2013

Aku dan Rumah Pintar BangJo

Awalnya aku hanya iseng mendaftar sebagai staf askor (asisten koordinator) untuk bidang anak jalanan di Asa PKBI Jawa Tengah. Hampir satu tahun aku bergabung dalam proyek tersebut. Pada pertengahan tahun 2009, proyek tersebut selesai. Feel itu belum sepenuhnya ada. Belajar bersama relawan-relawan yang sebelumnya telah bergabung di Asa PKBI Jateng terlebih dahulu. Mereka sangat peduli dengan anak-anak yang kurang beruntung itu. Mereka sangat perhatian, dan peduli terhadap masa depan anak-anak itu. Pergantian isu itu membuat teman-teman di satu bidang merasa resah akan keberlanjutan nasib anak-anak yang ada di jalanan kota Semarang. Inisiatif mereka untuk membuka kembali akses untuk anak-anak tersebut. Dibantu oleh staf Asa PKBI Jateng, berdirilah Rumah Pintar BangJo. Tahun 2010 mulailah kegiatan itu dimulai, diawali di wilayah pasar Johar Semarang. Dua tahun berlalu, feel itu mulai tertanam dalam. Keceriaan anak ketika memanggilku, kepercayaan orang tua yang diberikan, dan segala jeri payah yang di berikan oleh relawan-relawan mahasiswa membuatku mampu tersenyum bahagia. Semakin mengenal dunia fana mereka adalah tantangan tersendiri untukku. Berbagai macam kejadian membuatku semakin belajar banyak tentang arti kehidupan. Sabar, tenang, obyektif, netral, semua kupelajari disini. Moody, itu yang mereka (relawan) katakan atas diriku. Kadang aku suka marah sendiri, ngambek, diam tanpa alasan, dan kadang bisa sangat baik. Namanya juga manusia, itulah kilahku. Apapun itu, aku sangat berterimakasih kepada mereka. Maafkan segala karakterku yang kurang berkenan dihati kalian ya,,, 
Dua setengah tahun menjadi otak di Rumah Pintar BangJo. Banyak pelajaran yang telah aku terima, mulai dari advokasi ke dinas-dinas, lembaga-lembaga peduli anak jalanan,dan yayasan-yayasan yang peduli terhadap kesejahteraan anak di kota Semarang. Bersama mereka aku semakin paham bahwa tidak sedikit orang yang peduli terhadap anak rentan, anak beresiko, anak spesial yang ada di kota tercinta ini. Cita-cita kami sama yaitu membantu mereka, mengentaskan mereka dari kebutaan informasi dan ketidakmampuan menghadapi hidup. Impianku, mereka mampu keluar dari lingkaran setan yang mengukung mereka karena himpitan ekonomi dan kebutaan informasi. Aku yakin, dengan pendampingan yang optimal mampu mengangkat mereka jadi lebih baik dari sekarang yang mereka jalani. Ketika mereka nantinya menjadi dewasa yang bertanggungjawab, maka kehidupan mereka pun akan sedikit demi sedikit menjadi lebih baik. 
Cita-cita besar, harapan besar, dan impian yang sangat besar ketika mereka menjadi berdaya. Mampu keluar dari zona mereka yang sekarang. 
Teman-teman, tugas kita masih panjang. Begitu juga dengan diriku yang enggan melepas tugas ini sampai mereka benar-benar mampu berdaya. Alloh Maha Mendengar dan Mengetahui kesungguhan umatNya. Amin. :)



1 komentar: